GAP Nilai UN SMA DKI Jakarta

12:36 AM

Teman magang saya di Balaikota sedang "iseng-iseng" membuat sebuah grafik demografi persebaran hasil Nilai UN DKI Jakarta untuk sekolah swasta maupun sekolah negeri. Grafik ini merupakan hasil dari kebosanannya akan data set baru tentang Indonesia yang akhir-akhir ini tidak menarik dan karena rasa gemas itu sekarang dia membuat sebuah data grafik sendiri untuk mengetahui seberapa besar gap nilai  UN yang ada di DKI Jakarta.

Di postingan ini saya sekaligus belajar membaca sebuah data grafik, sebuah kemampuan dasar yang seharusnya sudah saya punya sejak lama. Ah.. tapi ya sudahlah. Daripada menyesal di hari kemarin, lebih baik kita mulai belajar latihan mulai sekarang.


X axis: Selisih Nilai Tertinggi vs Terendah
Y axis: Nilai Rata-rata Keseluruhan

SMAK 1 Penabur memiliki nilai rata-rata tertinggi dengan selisih yang kecil. Kondisi ini bisa diartikan bahwa SMAK 1 Penabur memiliki nilai UN tinggi dengan persebaran yang merata karena selisih nilai tertinggi dan terendah nilainya cukup kecil. Atau dapat diartikan bahwa siswa SMAK 1 Penabur mempunyai kompetensi yang hampir sama dalam pengerjaan UN tahun ini. Tidak ada siswa yang kompetensinya tertinggal jauh sehingga selisih nilainya juga kecil.

SMAK Bethel pada grafik di atass mempunyai selisih nilai yang paling kecil, meskipun nilai rata-rata keseluruhan UN mereka tidak terlalu tinggi, yaitu 62,65. Kondisi ini dapat diartikan juga bahwa kompetensi yang dimiliki oleh siswa SMAK Bethel merata, hal ini tercermin dari selisih nilai yang kecil. Meskipun nilai yang dimiliki siswa tidak tinggi, namun setidaknya sekolah ini telah berhasil mendidik seluruh siswanya secara merata. Begitu pula dengan SMA Trampil 1, meskipun nilai rata-rata keseluruhannya boleh dibilang rendah, namun selisih nilainya kecil.

Sekarang mari beralih ke daerah sebelah kanan, ternyata SMAN 8 DKI Jakarta memegang nilai rata-rata tertinggi untuk kategori sekolah negeri. Dari yang saya tahu, SMAN 8 ini memang sekolah negeri unggulan yang terkenal bagus. Jadi menurut saya tidak heran bahwa mereka memiliki nilai rata-rata yang tinggi. Namun yang menarik adalah ternyata nilai selisihnya cukup tinggi antara nilai yang tertinggi dan terendah. Apakah berarti sekolah ini belum berhasil sepenuhnya menyamaratakan penyampaian pengajarannya sehingga ada gap yang cukup jauh antara yang mempunyai nilai tertinggi dan terendah.

Terakhir adalah SMA Muhammadiyah 23 yang kurang beruntung, dengan nilai rata-rata keseluruhan yang tidak terlalu tinggi dan nilai selisih yang besar pula. Gap yang ada antara pemegang nilai tertinggi dan terendah sangat besar sehingga seperti yang pintar akan tetap pintar dan yang kurang pintar belum bisa ditingkatkan kemampuannya oleh sekolah. But, who knows? Mungkin opini saya ini bisa saja salah.


Kalo kita bagi grafik tersebut menjadi 4 kuadran maka akan ada insight menarik dari kuadran II dan kuadran III. Kuadran II didominasi oleh SMA Swasta yang memiliki nilai tinggi dan selisih nilai yang kecil. Sedangkan kuadran III didominasi oleh SMA Negeri yang memiliki nilai tinggi namun selisih nilainya besar.

Apakah fenomena ini memang terjadi di banyak sekolah selain di DKI Jakarta saja?
Menurut pengalaman saya yang pernah berada di swasta dan negeri, saya bisa menyimpulkan bahwa sekolah swasta dapat memberikan kesempatan yang sama bagi tiap siswanya untuk belajar. Pintar bersama-sama. Guru dan program sekolah yang ada menarik minat siswa yang kurang menjadi lebih fokus ke pelajaran. Sekolah swasta yang bagus bisa saja tujuan utamanya bukan pada besar nilai yang dapat mereka hasilkan, namun bagaimana seluruh anak dengan kompetensi yang berbeda-beda nantinya akan keluar dengan kompetensi yang lebih baik dari sebelumnya. Hasil nilai UN akan mengikuti.

Sedangkan di sekolah negeri, yang bagus pun, siswa dituntut untuk lebih kreatif sendiri dalam belajar. Dengan kata lain yang pintar akan pintar, yang kurang pintar akan tetap sama saja, dan yang mau berusaha lebih akan menjadi lebih pintar. Kemampuan guru yang tidak merata terkadang menjadi kendala bisa berbedanya jenis perhatian yang siswa dapatkan selama masa studi. Kelas A dan B dipegang oleh guru X berpengalaman, sedangkan kelas C dan D dipegang guru Y yang kurang reaktif terhadap siswa bisa membuat bias pemahaman yang didapatkan oleh siswa. Tujuan utama dari sekolah negeri biasanya bagaimana menghasilkan nilai UN setinggi-tingginya tanpa melihat kesetaraan pendidikan yang didapatkan oleh siswa mereka.

Tulisan di atas adalah campuran dari fakta yang ada dan opini dari apa yang saya alami. Besar di sekolah swasta katolik dan menghabiskan sisa pendidikan tinggi di negeri tentu ada banyak sekali perbedaan yang saya alami. Ada positif dan negatifnya di kedua tempat ini, namun bukan itu masalahnya.
Apakah ketidaksetaraan antara negeri dan swasta ini akan terus berjalan di waktu yang akan datang?
Bagaimana pendidikan di negeri ini bisa sejalan kalau apa yang diterima di lain institusi berbeda tujuannya?

Please do share your opinion, karena tulisan di atas juga masih merupakan sarana belajar saya untuk membaca sebuah data grafik dan mensintesis arti dari grafik tersebut.

Happy sharing :)

You Might Also Like

1 comments

  1. Yang bagus itu berarti penabur yaaa, jarak tertinggi dan terendah nya dikit

    ReplyDelete

Total Pageviews

Warung Blogger

Flickr Images