Mencintai Tanpa Tapi

5:52 AM


Belum.
Kalau hal ini menyangkut pasangan, saya belum pernah merasakan mencintai tanpa tapi.
Tulisan ini memang akan menceritakan cinta, tapi bukan dengan pasangan saya (yang dulu, sekarang atau di masa datang)
Tapi kalau kalian sudah pernah merasakan hal ini pada pasangan kalian sendiri, I will do a standing ovation, karena cinta level ini sudah masuk tingkatan yang sangat tinggi.

Saya tumbuh di keluarga yang bisa dikatakan harmonis jika kalian melihatnya dari luar. Seperti tipikal keluarga lain, apa yang terlihat pasti hanyalah senyuman dan cerita bahagia ketika menceritakan tentang keluarga. Namun seperti keluarga lain juga, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua pasti ada kekurangannya dan dari kekurangan itulah saya belajar mencintai tanpa tapi.

Hubungan dengan papa saya sewaktu kecil memang tidak begitu dekat, karena beliau harus pergi ke luar negeri untuk sekolah. 7 tahun. Saya ingat waktu beliau sudah terlalu lama tidak pulang ke Indoneesia, saya sempat ragu untuk mendekat. Hanya mengintip dari balik pintu. Ragu. Yah, namanya juga anak kecil yang sedang bingung. Akhirnya setelah saya SMP beliau telah menyelesaikan sekolahnya dan kembali ke Indonesia. Di kepala saya, papa saya sama dengan belajar sampai nangis. Karena setiap kali saya belajar matematika selalu berakhir dengan menangis, entah karena emang waktu itu sulit nyambung ke saya atau karena pola pikir papa saya yang masih ke-eropa-an karena terlalu lama di sana.
Suatu ketika ada kejadian yang belum bisa terlupa sampai sekarang, meski saya lupa persisnya kapan tapi tiap detil kejadian tersebut tidak terlupa di pikiran saya. Hubungan saya dengan papa yang dari awal sudah tidak terlalu dekat, tidak seperti dengan mama, malah membuat rasa percaya saya dengan papa berkurang.
Waktu berjalan dan perlahan saya makin dekat. Saya mulai terbuka dengan papa di banyak hal. Saya mulai merasa ada sosok papa yang bisa saya andalkan ketika sedang dirundung masalah. Namun tetap rasa percaya saya ke beliau memang tidak bisa 100%. Sampai suatu ketika kejadian ini berulang lagi dan saya nangis sejadi-jadinya. Saya merasa tidak tahu harus memilih perasaan yang mana tepat untuk papa.
Beruntunglah saat itu Tuhan mempertemukan saya dengan seorang psikolog. Dari beliau saya banyak belajar, belajar untuk memahami perbedaan hubungan ayah-anak dengan seorang pria dengan lingkungannya itu bisa berbeda. Perlahan tapi pasti saya mulai membuka hati dan perasaan saya lagi ke papa dengan mengesampingkan berbagai macam faktor, murni hubungan ayah-anak. Walaupun rasanya sulit melupakan dan memaafkan rentetan masa lalu.
Sampai saat ini saya cinta ayah saya, cinta saya tak terdefinisi kalau diukur dengan angka.
Saya mencoba mencintai beliau tanpa tapi.
Tanpa memikirkan apa yang terjadi di masa lalu, tanpa mendiskriminasi perasaan saya sendiri.
Bagaimanapun ia adalah ayah saya yang telah berjuang untuk saya sepenuh hati.
Apa yang beliau lakukan dulu (ataupun sampai sekarang, saya tidak mau tahu) adalah persoalan pribadinya. Saya mencintai beliau sebagai ayah yang selalu saya sisipkan namanya setiap doa.
Saya belajar mencintai tanpa tapi.

Lain halnya dengan Alm. Nenek saya.
Sedari kecil saya memang selalu dimanja beliau. Maklum dong cucu pertama.
Namun banyak kejadian yang diceritakan mama tentang nenek yang berbeda dari apa yang saya dapatkan dan beberapa kali memang saya mengalami sendiri tentang apa yang dikeluhkan mama. Sebagai seorang anak seringkali saya merasa tidak terima dengan hal ini, bagaimanapun dia mamaku. Tapi sikap nenek yang sayang sekali dengan saya seakan terus membuat perasaan saya bingung.
Setidaknya ini yang pernah saya alami dulu sampai masa remaja.
Tapi kemudian setelah saya dewasa dan bisa memilah-milah perasaan saya, saya justru sayang sekali dengan nenek. Terlepas dari apa yang pernah beliau lakukan, saya sangat sayang dengan nenek. Sampai saat ini saya selalu rindu pergi berdua dengan beliau hanya untuk mengantar ke dokter. Sampai di akhir hayatnya, alhamdulillah selalu bisa membahagiakan beliau. Dan ketika beliau pergi dengan mendadak, saya menangis tak henti selama perjalan Jakarta - Surabaya saking sedihnya.
Lagi-lagi saya mencintai tanpa tapi. Saya mencintai nenek saya tanpa tapi, mengesampingkan semua yang pernah beliau lakukan, beliau tetap nenek saya.

Mama adalah sosok yang selalu mengajarkan saya untuk mencintai tanpa tapi.
Kalimat ini memang tidak pernah keluar langsung dari mulutnya, namun berkali-kali saya selalu dinasehati bahwa mencintai dan merawat seseorang itu harus dari hati.  Jangan pernah mendendam. Jangan pernah mengingat apa hal buruk yang pernah dilakukan orang tersebut, apalagi pada kita. Tetaplah menyayangi dengan sepenuh hati.

Akhirnya setelah dewasa saya menjadi paham, bahwa mencintai tanpa tapi itu berat sekali di awal karena harus mengesampingkan banyak ego dalam diri kita. Tapi lega di akhir karena memang tidak ada beban yang harus ditahan.
Mungkin jika bisa saya analogikan cinta level ini berada setingkat lebih rendah dari cinta seorang ibu ke anaknya.



**Mohon maaf jika cerita ini tidak detail karena memang itu terlalu personal untuk saya. Namun semoga pesan yang ingin saya sampaikan bisa kalian terima dengan baik.

You Might Also Like

0 comments

Total Pageviews

Warung Blogger

Flickr Images